Membedah Firqoh Sesat Syi’ah, Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Murji’ah, Qodariyyah, Shufiyyah.

 

wp-1454945856948.jpg

Judul Asli :
Al-Furqon Baina ‘I-Haq wa ‘I-Bathil
Penulis : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
Penerbit : Dar Ihyai ‘t-Turotsi ‘I-‘Arobi

Judul Indonesia :
Membedah Firqoh Sesat Syi’ah, Khowarij, Mu’tazilah, Jahmiyah, Murji’ah, Qodariyyah, Shufiyyah.
Penerjemah : Hawin Murtadlo
Muraja’ah : Imtihan Asy-Syafi’i
Penerbit : Al Qowam
X + 308 hlm. : 150 × 230 mm
ISBN : 979-3942-43-6

Ulasan Buku :

Tulisan ini adalah karya tulis terakhir dari Ibnu Taimiyyah yang dituliskan di dalam penjara Damaskus. Bila diartikan dalam bahasa Indonesia, judul Al Furqon Baina ‘I Haq wa ‘Il Bathil adalah ‘pembeda antara yang haq dan yang bathil’. Di dalam buku ini, Ibnu Taimiyyah memberikan penjelasan ilmiah mengenai kesesatan firqoh-firqoh sesat & bathil, yaitu firqoh yang buruk dalam memahami kandungan Al Qur’an & yang menyelesihi sunnah.Ya, di jaman sekarang ini banyak sekali golongan-golongan yang membawa label ‘Islam’, namun jauh dari nilai keislaman itu sendiri. Dengan adanya buku ini, Ibnu Taimiyyah mencoba untuk membedah tipu daya sesat yang dilakukan oleh firqoh-firqoh sesat tersebut.

Pasca Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alayhi Wa Sallam wafat, kepemimpinan umat Islam diamanahkan kepada Khalifah Abu Bakar ash Shiddiq. Pada masa kekhalifahan Abu Bakar ash Shiddiq, Umar bin Affan dan awal kekhalifan Utsman bin Affan Rdhiyallahu ‘Anhum, yaitu pada tahun pertama kekhalifahan Utsman bin Affan tidak ada perselisihan. Kemudian, pada akhir masa kekhalifahan Utsman, terjadi beberapa peristiwa yang mengakibatkan timbulnya perpecahan hingga muncullah kelompok pembuat fitnah dan membunuh Utsman bin affan Radhiyallahu ‘Anhu. Hal ini mengakibatkan umat Islam berpecah-belah.

Bid’ah pertama kali yang terjadi adalah bid’ah kaum Khowarij, yang menyangka bahwa pelaku perbuatan dosa harus dikafirkan. Lalu muncul kelompok Syi’ah, Qodariyyah & Mu’tazilah, Murji’ah dan Jahmiyyah. Ibnu Taimiyyah menulis bagaimana kemunculan bid’ah dalam agama & bagaimana klasifikasi ahlu bid’ah. Sungguh, banyaknya firqoh dan aliran sesat yang muncul dan mengancam ‘aqidah umat. Dan sebagai muslim, merujuk pada buku ini kita dapat mengetahui bagaimana pemahaman mereka, apa yang menyebabkan mereka tersesat dan bagaimana menyikapi pandangan mereka. Jangan sampai kita terkena tipu daya mereka dan terseret dalam lembah kesesatan. Na’udzubillahi min dzalik.

Secara pribadi, buku ini cukup sulit untuk saya pahami. Perlu ketekunan dan kefokusan dalam membacanya. Kalau mau baca dengan cara scanning, sangat tidak dianjurkan. Kecuali untuk mereka yang pemahamannya sudah tingkat tinggi.

Banyak sekali pengetahuan terutama sejarah dan kaidah bahasa yang saya ambil dari buah karya Ibnu Taimiyyah ini. Salah satu paragraf yang menjadi acuan dalam suatu perkara akan saya kutip dan tulis kembali, ada di halaman 189,

Inti dari furqon (pembeda) antara yang haq dan yang bathil, petunjuk dan kesesatan, kelurusan dan penyimpangan, serta jalan kebahagiaan keselamatan dan jalan penderitaan kebinasaan adalah hendaklah seseorang itu menjadikan apa yang dibawa para rosul ketika mereka diutus oleh Alloh dan apa yang diturunkan-Nya dalam kitab-kitab-Nya sebagai kebenaran yang harus diikutinya; dengan itu terwujudlah furqon, petunjuk, ilmu dan Iman. Ia membenarkan bahwa itu haq dan benar, sedangkan perkataan dan pendapat seluruh manusia harus diukur dengannya, bila cocok denganya berarti haq. Sebaliknya, jika menyelisihinya berarti batil. Adapun bila ia tidak mengetahui apakah cocok dengan kebenaran ataukah menyelisihinya dikarenakan ucapan atau pendapat itu global dan ia tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya, atau ia mengetahui maksudnya akan tetapi tidak mengetahui apakah Rosul membawa ajaran yang membenarkan atau menyalahkannya, maka ia menahan diri dari berbicara mengenainya; dan ia tidak boleh berbicara tanpa ilmu.

Demikianlah ulasan buku dari saya. Segala yang benar datangnya dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Dan yang bathil adalah kesalahan dari saya dan syaithan. Kepada Anda saya mohon maaf, dan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala saya mohon ampun.

Wassalamu’alaykum Warahmatullahi Wabarakatuh.

FITNAH YANG TERTUKAR

Tulisan ini bukan kisah tentang sinetron ataupun ditulis karena saya jadi korban sinetron. Sungguh bukan. Ini hanya supaya bahasanya terlihat kekinian. Apaan coba? Baiklah, ini tentang kebingungan saya tentang keindahan bahasa yang kadang-kadang tergelitik untuk jadi lebih belajar lagi. Seperti yang kita tahu bahasa Indonesia telah banyak menyerap unsur-unsur dari bahasa asing. Yang paling banyak kita temukan adalah kosakata bahasa Indonesia yang dipengaruhi oleh bahasa Arab dan bahasa Inggris. Salah satu contoh kata dalam bahasa Indonesia yang menyerap penggunaan bahasa Arab adalah kata “kalang kabut”. Dalam KBBI, kata “kalang kabut” memiliki arti

kalang, — kabut4/ka·lang, — kabut/ a bingung tidak keruan: –

Pernah dengar “Al Ankabut“? Sebagai seorang muslim harusnya pernah dong ya. Yap, Al Ankabut adalah salah satu surah dalam Al Qur’an yang artinya adalah “laba-laba”. Kata “al ankabut” telah diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kalang kabut. Lha gimana? Jadi begini ceritanya. Coba perhatikan laba-laba dan sarangnya, bila ada musuh atau hewan lain yang bergerak menuju sarangnya dia akan terlihat panik dan bergerak kesana kemari, alias bingung tak keruan. Nah, dari sanalah akhirnya kata “kalang kabut” menjadi kata serapan yang berasal dari bahasa Arab. Mau menghapus penggunaan bahasa Arab dari bahasa Indonesia? Berapa banyak kosa kata kita akan punah?

Kembali lagi ke judul ya. Kata “fitnah” pun telah menjadi kata serapan. Sebagai orang Indonesia, makna fitnah yang saya pahami adalah ya yang sesuai dengan KBBI, yaitu

fitnah/fit·nah/ n perkataan bohong atau tanpa berdasarkan kebenaran yang disebarkan dengan maksud menjelekkan orang (seperti menodai nama baik, merugikan kehormatan orang): — adalah perbuatan yang tidak terpuji;

Akhirnya, otak saya sempat nge-hang ketika belajar tentang fitnah wanita, dan fitnah syubhat. Apakah wanita suka mengeluarkan perkataan dusta dengan maksud menjelekkan orang begitu? Apa yang menyebabkan perkara syubhat menjadi kedustaan? Ternyata saya salah Saudara-Saudara. Salah total.

Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘alayhi wasallam yang diriwayatkan dari Usamah Bin Zaid. Beliau bersabda,

مَا تَرَكْتُ بَعْدِي فِتْنَةً أَضَرَّ عَلَى الرِّجَالِ مِنَ النِّسَاءِ

“Aku tidak meninggalkan satu fitnah pun yang lebih membahayakan para lelaki selain fitnah wanita.” [HR. Bukhari: 5096 dan Muslim: 2740]

Kalau saya baca di sini , dan saya kutipkan pengertian fitnah ” Menurut bahasa, kata fitnah –bentuk tunggal dari kata fitan- berarti musibah, cobaan dan ujian. “

Sedangkan, makna fitnah yang selama ini saya pahami sesuai KKBI, bukanlah makna fitnah yang dimaksudkan dalam hadits, melainkan makna dari kata al buhtan mashdar dari  bahata, seperti yang terdapat dalam Hadits Rasulullah Shallalahu ‘Alayhi Wa Sallam berikut.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : أَتَدْرُوْنَ مَا الْغِيْبَةُ ؟ قَالُوْا : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَمُ، قَالَ : ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ، فَقِيْلَ : أَفَرَأَيْتَ إِنْ كَانَ فِيْ أَخِيْ مَا أَقُوْلُ ؟ قَالَ : إِنْ كَانَ فِيْهِ مِا تَقُوْلُ فَقَدِ اْغْتَبْتَهُ, وَ إِنْ لَمْ يَكُنْ فِيْهِ مَا تَقُوْلُ فَقَدْ بَهَتَّهُ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahukah kalian apakah ghibah itu?”. Sahabat menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata: “Yaitu engkau menyebutkan sesuatu yang tidak disukai oleh saudaramu”, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya: “Bagaimanakah pendapat anda, jika itu memang benar ada padanya ? Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Kalau memang sebenarnya begitu berarti engkau telah mengghibahinya, tetapi jika apa yang kau sebutkan tidak benar maka berarti engkau telah berdusta atasnya”. [Muslim no 2589, Abu Dawud no 4874, At-Tirmidzi no 1999 dan lain-lain]

Jadi, kata “fitnah” dalam bahasa Indonesia, yang terbentuk dari bahasa Arab, telah mengalami perubahan makna dari makna aslinya. Saya tidak paham bagaimana hal ini dijabarkan dalam studi kesusastraan. Pasti ini ada ilmunya, tapi saya benar-benar tidak mendalami bahasa Indonesia dengan utuh menyeluruh, apalagi bahasa Arab (padahal pengen banget paham makna Al Qur’an). Jadi mohon maaf, bila ndak ada ilmiah ilmiahnya. Yaa Allah, ampuni hamba dan berikanlah ilmu yang bermanfaat kepada kami.

Point pentingnya buat saya adalah saya sudah harus bisa membedakan kapan kata “fitnah” merujuk pada “ujian” dan kapan kata “fitnah” dimaknai “kedustaan”.

Mohon maaf jika ada kekeliruan dalam penulisan ini. Saya hanyalah fakir ilmu yang masih harus banyak belajar, terutama ilmu syar’i, ilmu bahasa Arab dan ilmu kehidupan. Mohon dido’a-kan.